Dah berabad abad ga ngepost!! Wahahaa.
And now I’m typing my post.
Ga mungkin juga kan dari yang berabad-abad ga ngepost ini tiba-tiba ngepost. Pasti ada alesannya… ya itu dia. Something has crossed my mind, dan sebelum ‘something’ itu pergi ada baiknya gue abadikan dalam dokumentasi berbentuk blog.
Kenapa harus blog? Kenapa ga note di hp? Kenapa ga di buku tulis? Simple aja sih, menurut gue pengalaman ini cukup berharga buat dibaca beberapa orang. Gue katakan ‘beberapa orang’ karena ada juga beberapa orang yang ga ngalamin apa yang akan gue tulis (mungkin) tapi ga rugi juga sih kalau semua orang baca.
Kemarin malem, sebagai seorang yang berkepribadian melankolis (baca : melankolis itu bukan berarti galau! Ini pandangan yang harus dilurusin ke semua orang) gue merenung, tentang apa yang udah ngebuat gue kaya sekarang. Liat gue sekarang! Bukan luarnya, tapi dalemnya.
Sekarang gue jauuuuh lebih apatis terhadap celaan negatif orang. Insya Allah celaan negatif, bukan kritik (amin). Beneran. I was wondering why, karena kalau kita flesbek ke SMP, kita semua akan menemukan betapa bedanya diri gue yang dulu sama diri gue yang sekarang.
Brurce masa SMP : The Journey
Kelas 7. Gue inget bener nih. Dulu waktu kelas 7, pertama kali masuk SMP 2 (di Bandung SMP 2 masuk SMP yang favorit) gue bingung banget seperti apa pergaulan disana. Gue sendiri jebolan SD deket rumah yang bisa disebut ’ SD pinggiran’. Jadi gue mikir, gue harus melakukan segalanya biar bisa blend in.
Yah yang namanya anak kelas 1 SMP, bisa gue bilang sebagai kelas 7 SD. Pikirannya masih kekanak-kanakan, manja, suka nonton digimon (sampe sekarang juga sih), masih dilarang-larang ortu, dst dst dst. Waktu itu, rambut gue yang emang rancung-berdiri-tak-bisa-tidur-kalau-pendek menjadi bahan candaan temen sekelas. Gue sampai dapet julukan ‘Ryuk’, si dewa kematian di buku death note yang rambutnya rancung-rancung dan badannya cungkring. Akhirnya setelah rambut gue tumbuh, gapernah seharipun rambut lebih pendek dari 10cm.
Juga, waktu kelas 8. Gue duduk deket ama temen yang bener-bener Japan holic. Tiap hari casciscusannya pasti tentang manga-mangaan atau anime-animean. Sekali-kali mereka niru-niruin gaya tokoh yang mereka suka (kalau kita liat sekarang mereka meragain itu, mungkin kita ngangkat sebelah alis sambil nyari alesan pengen pergi), nulis-nulis huruf kanji, dst. Dan tahukah kalian? Dari kecil satu-satunya hal tentang Jepang yang bener-bener gue suka adalah Conan dan Crayon Sinchan (oke ini dua) tapi akhirnya gue ikut-ikutan mereka suka gambar manga, suka meragain tokoh aneh aneh, dan baca tabloid yg membahas manga. Padahal gue tau, gue ga terlalu suka tentang itu, biasa aja malah, netral.
Tapi berhubung tujuan gue adalah menjadi seperti mereka, jadilah gue seperti mereka waktu itu.
Kelas 9, inisih masa-masa ‘indahnya’ sibuk nyiapin UN. Jadi emang waktu itu kerjaan gue di sekolah cuma belajar, dan mainnya juga cuma ama Ali, Annas, dan Kalam kalau film Harry Potter dan film-film rame lainnya premiere, hehe jadi yasudahlah.
Bisa ketebak lah waktu SMP gue orangnya kaya apa. Ibarat daun jatuh yang terombang-ambing air yang mengalir, ngikutin aja arah arus air. Atau ibarat orang main di program hole in the wall, gue selalu ngikutin bentuk lubang di tembok yang datang. Orang bilang A, gue bilang A. Orang bilang B, gue bilang B. Orang bilang C, gue bilang C. Orang bilang R, gue bilang R (walaupun dari lahir lidah gue gabisa bilang R).
Dan liat gue sekarang!
Every man loves soccer, and so does the cool girls. Sementara gue sendiri seperti cowok imbisil aneh yang ga terlalu excited sama sepak bola. Temen-temen gue udah tau, dan mereka pasti nganggep gue aneh walaupun mereka ga bilang gitu. Dan taukah? Gue ga kaya si-Brurce-waktu-SMP yang pastinya langsung mencoba menyukai sesuatu yang dari awal gue pikir ga terlalu interesting. Gue biasa aja.
Pernah juga, seorang tukang cukur malang mencukur rambut gue dengan model TNI. Otomatis jadi bahan candaan di kelas. Dan gue, biasa aja.
Dan banyak lagi hal-hal yang tergolong aneh di masyarakat yang gue lakukan dan gue biasa aja (lupa soalnya, banyak).
Dan sekarang gue kelas 12 SMA. Apatisme itu mulai muncul ketika gue kelas 11 SMA. Gue membutuhkan satu tahun lebih untuk menumbuhkan sifat Apatisme Yang Baik.
Gue bukan ngedidik pembaca buat jadi orang gatau malu. Bukan, bukan itu. Gue cuma mau bilang, boleh lah dulu kita kebawa arus, dulu kita melakukan kesalahan sampai membohongi diri sendiri.
Dicandain temen-temen? Itu biasa. Diketawain? Itu biasa.
Tapi, kebanggaan menjadi diri sendiri bisa mengalahkan rasa malu ditertawakan. Kebanggaan mengetahui kalau membohongi diri sendiri untuk menyenangkan orang lain itu salah, mengalahkan rasa malu kita ketika ditertawakan orang lain.
Please all and you will please none.
Orang yang menjalani hidup dengan mengalir seperti air mungkin lupa bahwa air hanya mengalir ke tempat yang lebih rendah - @marceltirawan
Orang yang biasa dikelikitik biasanya ga gelian. Tapi kalau kita melihat orang lain dikelitik dan orang itu seperti tidak kegelian, yah emang bikin kita geli sendiri. Maaf ya
Submitted by hotcupofchai
(Source: tonsofphotographyxox)